Selasa, 13 Agustus 2019

Entah ke Mana

Agustus, enam hari menuju dua puluh tiga. Siang dengan langit biru, cuaca yang hangat, dan angin sejuk. Baru saja tadi pagi aku merasa bersyukur, namun sekarang seakan dingatkan kembali bagaimana beberapa hal begitu berantakan, yang bahkan sudah terserak di mana-mana sebelum aku ada. Hal-hal baik seakan sulit mendekat, sesulit hal-hal bahagia datang. Perihal yang sama seperti sebelumnya, semenjak itu, aku menjadi semakin takut untuk tidak diterima, apalagi untuk berharap pada mereka yang baik yang padahal aku sungguh-sungguh ingin membangun jalan setapak, menuju tempat yang tentunya semua orang shalih harapkan.

Kota sebelumnya terasa lebih menenangkan, meskipun melelahkan; mungkin itulah mengapa aku selalu ingin kembali —selain karena aku rindu orang-orangnya, hiruk-pikuknya, dan waktu-waktunya. Ketika kukatakan, aku yakin kau tidak akan percaya. Egoisnya, aku menolak bicara pada mereka yang kuanggap tidak bisa mengerti apa yang ada, meskipun mereka telah berusaha.

Aku tidak pernah berharap seorang teman datang untuk memperbaiki semuanya, tapi jika ada sedikit genggaman untuk menguatkan, mungkin rasanya akan lebih mudah. Aku sadar, sebelum hal-hal mudah, akan selalu ada hal-hal sulit bukan? Fa inna ma'al 'usri yusra. Aku tidak mau menarik orang lain untuk masuk ke dalam hal-hal pada diriku yang belum selesai, hanya saja aku sudah lelah berulang kali menghibur diriku sendiri.

Kali ini, aku tidak setuju. Kita memang selalu punya tempat untuk bersujud, tapi kita juga akan selalu butuh bahu untuk bersandar. Aku tahu hidup memang tidak mudah, namun rasanya akhir-akhir ini menjadi agak lebih sulit.

Andai kau tahu, aku sungguh ingin pulang; yang entah ke mana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Well, I don't hate comments.