Minggu, 02 Oktober 2011

#3 Babak Baru

Rabu malam, tiba-tiba kau mengajakku membaur ke keramaian tengah kota. Sebagai pengganti pembatalan janji sabtu malam lalu, alasanmu. Dengan enggan ku terima ajakan itu. Ku sembunyikan rasa gembira karena memang aku ingin melihat bagaimana kau menggoda.

Pukul tujuh, kau menjemputku, dengan t-shirt biru yang mungkin saja cocok dengan terusan ungu kesukaanku. Tatapanmu pun masih sama, seakan menyembunyikan sesuatu di balik bingkai kacamata. Aku hampir tertawa melihatnya.

Kau ajak aku berkeliling kota, bercengkrama diiringi lagu kesukaan kita. Mengomentari wanita yang aneh, banci dengan badan yang kekar atau duduk dan makan bakso barang sebentar. Masih ku tahan sungging senyum di bibir. Ingin kutahu apakah kau akan merayu atau mencibir.
 
Kau ajak aku duduk di bangku taman. Dikelilingi bunga-bunga yang baru disiram tadi sore, dikelilingi anak kecil yang berlarian ditemani orang tuanya. Dan aku merasa seperti mereka, kau berikan aku permen dan balon seribuan.
 
Di bangku taman itu kau berjanji, akan terus begini. Aku pun begitu. Kita melingkarkan jari, sedikit meniru seperti di TV. Ritual ini masih terasa manis, meskipun sudah kita lakukan puluhan kali. Dengan tangan kiri, kau mengeluarkan sesuatu dari balik saku. Kotak perak? Dari dalamnya menyembul sebuah benda perak dengan mata biru yang kini kau lingkarkan di jari manisku.

Kali ini sudah tak kuat ku tahan simpul di bibir, dan bukan karena rayu atau cibir. Bulir air mataku dan sebuah benda bundar berwarna biru mengawali sebuah babak baru. Dengan dua buah kalimat kau membuka dua babak perkenalan kita. “Siapa namamu?” dan “Maukah kau menikah denganku?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Well, I don't hate comments.