Kepada W 5653 SF,
Pada suatu siang yang terik,
aku sedang menerka-nerka apa yang dilakukan pemilikku ketika ia duduk santai di
atas jokku hingga langit berubah menjadi kelabu, padahal tak ada yang sedang ia
tunggu selain asap dan truk-truk berdebu.
Keesokan harinya, aku masih menerka-nerka apa yang dilakukannya ketika ia membawaku berputar-putar ke selatan yang jauh, hingga ban-banku ini terasa melepuh, padahal tak ada tempat yang ia datangi selain jalanan dengan spanduk lusuh.
Pada hari berikutnya di tempat yang sama, pemilikku melihat pemilikmu, berkacamata dengan kemeja biru, pernah ku lihat sebelumnya dan entah mengapa ia amati dengan saksama sambil sesekali membuang muka saat pemilikmu melihat ke arahnya. Lalu, aku mengerti akan sesuatu yang kurasa perlu ku sampaikan padamu.
Mungkin kau tahu saat
pemilikku berusaha mencuri-curi pandang ke pemilikmu lewat kaca spionku sambil
sedikit berpura-pura tidak tahu saat pemilikmu menoleh ke arahku. Atau saat ia
mengamatimu dan menghafal deretan angka di bemper depanmu. Ku akui, dia gadis
yang lucu, suka berpura-pura tidak tahu dan punya alasan seribu satu.
Sederhana, tapi juga bisa terlalu. Dia bukan gadis penguntit, hanya ingin tahu
sedikit.
Aku tidak tahu apa yang akan
ia lakukan setelah kau jarang kembali ke tempat itu lagi, mungkin tetap
berusaha mencari atau menghentikan semuanya setelah menangis semalaman
sebelumnya. Karena aku tahu, tak akan ada yang bisa ia sampaikan selain degupan
rindu.
Jadi, katakan pada pemilikmu,
bahwa pemilikku mencintainya, bahkan lebih dari kecintaannya pada kopi dan
puisi-puisi favoritnya. Atau mungkin lebih dari keikhlasan pemilikmu menyeka
air hujan yang singgah pada tubuhmu lewat cipratan air di jalan.
Katakan saja, meskipun salah
satu dari kita harus rela tidak dikendarai beberapa lama jika mereka
benar-benar bersama.
Tertanda,
W 6262 TR
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Well, I don't hate comments.