Rabu, 15 Januari 2014

Surat Untuk (Calon) Anakku

Teruntuk anakku kelak,

Sebagaimana hari kemarin dan kemarinnya lagi, hingga entah berapa kemarin yang telah lewat diantara seribu satu pertanyaan yang hinggap, kau hadir sebagai satu tanya yang menetap. Kau yang belum dapat kubelai hitam rambutmu dan kau yang belum dapat kugenggam tangan mungilmu. Mungkin kau masih disana, di antara ruang dan waktu yang tertata sedemikian rupa, sebagai sebuah rahasia yang tak mungkin dapat diterka.

Anakku, aku janji akan memberikan ayah yang terbaik untukmu dengan cara memperbaiki diriku. Bukan lelaki yang paling tampan, bukan lelaki yang terkaya, tetapi lelaki yang akan menyayangiku sebagaimana ia akan menyayangimu dengan ikhlas. Sebab, mereka bilang kita cukup berkaca untuk tahu seperti apa jodoh kita, ia akan menjadi pantulan diri kita, apakah kita baik atau sebaliknya.

Aku mendamba saat dimana kita akan menjelma dalam satu jiwa, dimana kita bernafas bersama, bergerak bersama dan berbincang tanpa satu kata pun perlu kuucapkan. Kau akan lelap dalam tubuhku, mengecap apa yang kulahap dan merasakan apa yang kurasa. Dimana kau begitu dekat dengan tubuhku, dimana aku akan semakin tak sabar untuk bertemu denganmu.

Hingga saat kau tiba, duniaku tak akan lagi seperti sebelumnya. Aku akan menjadi manusia yang berbeda. Kau kan menjadi simbol lahirnya kehidupan baru. dengan kaki-kaki mungilmu, kau akan belajar menjajaki ibu pertiwi, mengenali arti hidup baru ini. Dengan genggaman tanganku, aku akan merawatmu dengan penuh kelembutan, memanjakanmu dengan doa-doa hingga kau dewasa. Kita akan sama-sama belajar, aku akan belajar mencintaimu -sebagai guru, juga sahabat terbaikku, sebagaimana kau belajar untuk mengenalku dengan jasad barumu.

Aku akan ada saat kau mengucap kata pertamamu, mendengar kau bernyanyi riang melantunkan lagu kesayangan, mengingatkanmu pada setiap lirik yang salah. Hingga akhirnya, pangkuanku akan menjadi tempatmu melepas lelah, dekapanku akan menjadi tempat ternyamanmu saat kau tak tahu kemana harus mengambil arah. Aku juga akan ada saat kau melangkahkan kaki di sekolah pertamamu, dimana kau tak hanya akan belajar membaca, tetapi kau juga akan tahu mengapa air mata boleh saja terjatuh asal tak terlalu lama.

Anakku, kita akan berada dalam sebuah siklus yang tak kita sadari. Setelah sekian lama aku membimbingmu, kau akan memapahku. Kau akan menjadi pegangan hidupku saat kakiku terlalu lemah untuk berdiri. Kau akan menjadi pengingatku saat aku tak mampu mengendalikan pikiranku lagi. Kau akan menjadi orang yang paling aku butuhkan, aku rindukan.

Hingga pada akhirnya yang tersisa padaku hanyalah kulit berkerut dan rambut yang memutih. Tak juga jiwa hanya tubuh yang ringkih. Perlu kau tahu bahwa kasihku padamu takkan habis tercurahkan, sekalipun raga kita belum dipertemukan. Gema tawamu akan selalu menggema di kepalaku sampai aku terlelap di pusaraku.

Sampai bertemu. Semoga Tuhan senantiasa menjagamu disana untukku.
Sebenarnya tulisan ini saya buat untuk saya kirimkan pada suatu challenge menulis di tumblr. Namun karena beberapa kesibukan, tulisan ini selesai tiga hari setelah deadline. Akhirnya, disinilah tulisan ini bertempat tinggal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Well, I don't hate comments.