Minggu, 09 November 2014

Introvert dan Prasangka

Sebagai introvert, saya lebih banyak menghabiskan waktu sendiri. Entah mengapa stereotype orang-orang masih sama bahwa introverts itu kesepian dan tidak bisa berteman. Apa karena kelihatannya memang seperti itu mungkin ya? Berdasarkan pengetahuan dan pengalaman saya, introverts bukan kesepian, hanya saja mereka lebih nyaman ketika sendiri dan dikelilingi satu atau dua teman akrab saja. Mereka membutuhkan me-time lebih banyak daripada extroverts. Begitu pula dengan saya yang lebih senang pergi kemana-mana sendiri, entah membeli makanan, pergi ke stasiun dan berangkat kuliah. Tapi, saya memiliki pengecualian pada dua keadaan, yaitu ketika ada teman akrab yang bisa diajak dan ketika saya melakukan aktivitas yang belum pernah saya kerjakan sebelumnya.

Kemarin, saya membeli tiket kereta di stasiun dengan perasaan random setelah menunggu ketua kelas untuk mengumpulkan tugas selama hampir satu jam dan akhirnya dia tidak datang. Sebenarnya, saya mengajak teman untuk pergi ke stasiun. Namun, karena ia harus screening untuk LSO, saya pun pergi sendiri. Di angkot menuju stasiun, saya duduk di kursi samping supir karena kursi bagian belakang sudah penuh. Pada umumnya introverts, termasuk saya, tidak suka berbicara dengan orang asing jika orang tersebut tidak benar-benar berniat mengajak kami bicara. Jadi, saya pun duduk manis sambil memperhatikan jalanan. Macet di daerah Jembatan Soekarno-Hatta membuat bapak supir mulai mengajak saya bicara dengan ramahnya. Beliau menceritakan tentang tumpukan kendaraan di titik yang sama ketika jalur dua arah sebelum demonstrasi baru-baru ini. Saya mendengarkan. Saya pun tahu bahwa bapak ini memang benar-benar berniat mengajak saya bicara dua arah, bukan hanya butuh pendengar akan komentarnya. Jadilah perjalanan saat itu terasa lebih menyenangkan.

Setelah sampai di stasiun dan selesai memebeli tiket kereta, saya berniat langsung pulang. Saat itu saya sedikit bingung mengenai jalur angkutan umum. Saya tahu angkot apa yang harus saya naiki, namun saya tidak tahu angkot ke arah manakah yang harus saya berhentikan. Saya pun bertanya kepada seorang bapak juru parkir di depan stasiun. Ternyata, bapak ini tunawicara. Beliau masih dapat mengeluarkan suara, namun apa yang beliau ucapkan tidak jelas. Meski begitu, ia tetap menjelaskan dengan semangat. Kalau ke MT Haryono, angkotnya ke arah sini, Mbak. Kalau yang ke arah sana juga bisa, tapi putarnya jauh. Mungkin seperti itu yang beliau ucapkan. Berkat semangat dan gerakan tangan yang ikut membantu beliau berkomunikasi, saya bisa mendapat penjelasan beliau dalam waktu singkat, bahkan beliau sampai menghentikan angkot untuk saya naiki.

Perasaan campur aduk antara sebal dan marah yang saya bawa dari kampus pun hilang. Mungkin, bagi beberapa orang kejadian semacam ini kurang bermakna. Namun, saya mendapat beberapa pelajaran dari sini. Menurut saya, jangan kita berprasangka buruk terhadap dunia dan lingkungan kita. Apalagi ketika mana yang baik dan buruk sudah terbolak-balik seperti sekarang ini. Ketika bertemu orang sudah memberi label yang tidak-tidak. Orang ini pasti begini, harus hati-hati, nih. Kalau boleh jujur, di angkot dan stasiun saya juga punya pikiran orang ini begini, orang ini begitu, aduh aduh aduh. Apalagi untuk introverts yang kata orang have the loudest minds. Namun, jangan khawatir, itu juga salah satu tanda bahwa pikiran kita masih bekerja kan? Memang baik berhati-hati dan tidak salah memiliki prasangka, namun tidap perlu berlebihan sampai secara tidak sadar kita memberikan evil stare dan membuat orang lain tersinggung. Orang baik akan tetap ada selama kita terus memperbaiki diri untuk menjadi orang baik. Kita selalu dipasangkan dengan hal-hal yang setara dengan diri kita bukan? Tidak hanya soal jodoh, tetapi juga lingkungan.

Mungkin jika diterapkan dalam lingkup yang lebih besar, jangan kita berprasangka buruk kepada Allah, apalagi pesimis terhadap-Nya. Nggak mungkin kejadian lah, kan tadinya nggak begini. Siapalah kita berani menentukan sesuatu yang belum terjadi dengan percaya diri? Bagi Allah kan apa saja bisa terjadi. Perlu kita ingat bahwa Allah mengikuti prasangka hamba-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Well, I don't hate comments.