Dari sosok yang bisa tiba-tiba pergi seperti Herman Mellema,
dipadu sosok yang tak setegar Nyai Ontosoroh
kami ada.
Dari tawa canda pada masa-masa lama
menjadi derai air mata berkala
yang kini ada.
Namun, kami bersyukur tak jadi pembenci serupa Robert Mellema.
Kami menyayangi satu dan yang lain dengan
perbuatan tanpa kata.
Kami juga tak rapuh serupa Annelies Mellema,
malah semakin jelita setiap obat bius
meresapi nadi kami.
Aku bukannya menolak tahu jika itu melemahkanku.
Dia bukanya tak peduli jika itu tak ingin ia ketahui.
Kami hanya menolak kalah.
"Melawan, Minke. Dengan segala
kemampuan dan ketakmampuan." kata Nyai.
Maka kami bertahan.
Catatan :
Puisi diatas terinspirasi dari roman Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Bumi Manusia. Nama-nama diatas adalah tokoh-tokoh dalam roman tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Well, I don't hate comments.