Pernah dengar novel Tuhan Maha Romantis yang ditulis oleh Azhar Nurun Ala?
Berikut ini adalah kutipan dari novel tersebut. Jadi, saat itu Rijal
Rafsanjani dan Annisa Larasaty, tokoh utama dalam novel, diminta untuk
menginterpretasi puisi Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono.
Puisi Hujan Bulan Juni ini memang sangat manis dan memiliki makna yang
dalam. Puisi ini pertama kali saya baca di soal latihan Bahasa Indonesia
saat SMP dan menjadi puisi favorit saya. Baik interpretasi puisi dari Rijal
maupun Annisa menjadi favorit saya. Ya, meskipun dua-duanya ditulis oleh
orang yang sama. Semoga bisa segera membaca
novelnya.
Rijal Rafsanjani
Hujan Bulan Juni
Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
Kepada hujan, barangkali kita memang perlu mengucapkan terima kasih yang dalam. Hadirnya telah membuat apa-apa yang tak terungkap tetap rahasia. Karena ternyata, hujan tak hanya menghapus titik rindu, tapi juga melarutkan kenangan-kenangan. Membawanya pergi entah ke mana, sebab laut tak pernah sanggup jadi muara buat segala. Jadilah kita tetap sendiri-sendiri—aku sendiri, kamu sendiri. Dan tak perlu lagi kita bicara janji.
Kepada hujan, barangkali kita memang perlu mengucapkan terima kasih yang dalam. Hadirnya telah membuat apa-apa yang tak terungkap tetap rahasia. Karena ternyata, hujan tak hanya menghapus titik rindu, tapi juga melarutkan kenangan-kenangan. Membawanya pergi entah ke mana, sebab laut tak pernah sanggup jadi muara buat segala. Jadilah kita tetap sendiri-sendiri—aku sendiri, kamu sendiri. Dan tak perlu lagi kita bicara janji.
Tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
Kita pernah melangkah dan berhenti dengan irama yang sama. Kita pernah menatap bulan dari sudut yang sama. Kita jua yang menjadi sebab adanya pemaknaan-pemaknaan positif tentang jarak dan keterpisahan. Kita telah mencipta banyak pembenaran-pembenaran indah, dan itu pertanda kita ragu. Tapi hujan menghapus keraguan itu—sayangnya—bersama butir-butir cinta yang ada di sana. Sayang sekali, memang. Tapi kita bahkan tak mampu memisahkan cinta dari keragu-raguan, apalagi meninggikannya—jadi lupakan saja.
Tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya tang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
Tidak semua apa yang kita rasa perlu diungkapkan, bukan? Sebagian rasa memang membahagiakan ketika diungkapkan. Sebagiannya lagi menentramkan bila dipendam. Boleh jadi sisanya ada untuk dilupakan. Itukah yang kini kurasakan? Kau rasakan? Dalam diam kita, hujan memang terlalu banyak bicara. Tapi bagaimanapun, sampaikanlah terima kasih yang dalam padanya, sebab—sekali lagi,—hadirnya telah membuat apa-apa yang tak terungkap tetap menjadi rahasia. Barangkali inilah cara kita menghapus rindu, membiarkannya larut bersama hujan—yang tak pernah kita tahu pasti kapan ia hadir untuk melakukannya.
Hujan Bulan JuniKita pernah melangkah dan berhenti dengan irama yang sama. Kita pernah menatap bulan dari sudut yang sama. Kita jua yang menjadi sebab adanya pemaknaan-pemaknaan positif tentang jarak dan keterpisahan. Kita telah mencipta banyak pembenaran-pembenaran indah, dan itu pertanda kita ragu. Tapi hujan menghapus keraguan itu—sayangnya—bersama butir-butir cinta yang ada di sana. Sayang sekali, memang. Tapi kita bahkan tak mampu memisahkan cinta dari keragu-raguan, apalagi meninggikannya—jadi lupakan saja.
Tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya tang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
Tidak semua apa yang kita rasa perlu diungkapkan, bukan? Sebagian rasa memang membahagiakan ketika diungkapkan. Sebagiannya lagi menentramkan bila dipendam. Boleh jadi sisanya ada untuk dilupakan. Itukah yang kini kurasakan? Kau rasakan? Dalam diam kita, hujan memang terlalu banyak bicara. Tapi bagaimanapun, sampaikanlah terima kasih yang dalam padanya, sebab—sekali lagi,—hadirnya telah membuat apa-apa yang tak terungkap tetap menjadi rahasia. Barangkali inilah cara kita menghapus rindu, membiarkannya larut bersama hujan—yang tak pernah kita tahu pasti kapan ia hadir untuk melakukannya.
Annisa Larasaty
Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
Seperti hujan yang datang tiba-tiba. Seketika kau hadir dalam hidupku, mewarnai hari-hari yang mulai sunyi. Tak ada kata yang kau ucap, tak ada bait yang kau tulis, tapi pesan itu sampai padaku: berlarilah bersamaku, merintik di dedaunan, terserap ke dalam tumbuh-tumbuhan, atau mengalir ke samudera. Kau rayu aku dengan kelembutan, dan aku menyerah. Aku ingin hanyut denganmu tapi tak bisa. Maka biarkanlah saja aku menjadi bunga, yang turut menyicipi segarnya tetesanmu meski barangkali tak ikut hanyut ke laut.
Tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
Seperti hujan yang turun tanpa kompromi. Pesona lugumu menghapus semua kenangan hingga yang tersisa hanyalah saat ini dan dirimu. Jadi boleh aku mengucap 'terima kasih'? Sebab keraguan itu luruh bersama jatuhnya dirimu yang semakin deras. Tetapi tetap saja aku dan kau bukan siapa-siapa. Keraguan boleh tiada, tapi kepastian juga harus segera. Maka maafkan aku yang disini-sini saja karena tak bisa apa-apa.
Tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkanna yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
Seperti gerimis. Kau hadir hampir tanpa suara. Kau masuk tanpa mengetuk. Adakah kau merasakan ketakberdayaan itu? Bahwa aku hanya bisa duduk si sini menunggu dan tak punya daya untuk berbuat sesuatu. Jadi akankah kini kau pergi tanpa permisi?
Note :
Kalimat bercetak miring adalah puisi yang berjudul Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono yang ditulis pada tahun 1989.
Source :
Website Azhar Nurun Ala
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Well, I don't hate comments.