"Berangkat ke desa terpencil untuk mengajar bukanlah pengorbanan, melainkan sebuah kehormatan. Kehormatan untuk melunasi janji kemerdekaan, mencerdaskan kehidupan bangsa." - Anies Baswedan.
Sedikit malu rasanya ketika membaca quote di atas. Banyak dari mereka yang mendapat kehormatan untuk membantu melunasi janji kemerdekan. Saya rasa kami belum pantas disebut seperti mereka. Namun, quote tesebut mampu menginspirasi saya. Minggu lalu adalah kesempatan kedua saya mengajar. Brawijaya Mengajar bekerja sama dengan tiga sekolah dasar dan kali ini saya bertugas di sekolah yang berbeda dari beberapa minggu lalu. Sebenarnya, kami mengajar setiap hari Sabtu, namun kami dibagi menjadi beberapa sif sehingga tidak mengajar setiap minggunya. Setelah sebelumnya saya mendapat sif mengajar di SDN Srimulyo 2, sekarang saya dan teman-teman lain mengajar di salah satu sekolah dasar di daerah Pujon. Kami berkumpul pukul lima pagi di lapangan rektorat Universitas Brawijaya. Saat kami tiba, langit masih gelap dan sekitar pukul setengah enam pagi kami pun berangkat. Perjalanan ke Pujon tidak sejauh ke Dampit, namun medannya lebih naik turun dan berkelok-kelok dengan jurang di samping. Bahkan ada satu tanjakan yang tingginya hampir 45 derajat.
Sampai disana, sekolah masih sepi. Hanya ada siswa-siswi kelas 4, 5 dan 6 yang akan berangkat mengikuti lomba gerak jalan. Siswa-siswi kelas 1, 2 dan 3 yang akan kami ajar belum tiba. Saya mengajar di kelas dua bersama empat orang teman. Karena sebelumnya saya mengajar siswa-siswi kelas lima dengan tiga puluhan murid dalam satu kelas, saya membayangkan kelas yang cukup ramai degan anak-anak yang lebih kecil. Namun, saya sedikit kaget karena ketika pada jam masuk kelas, siswa yang ada hanya empat orang. Ternyata ada dua siswa lain yang masuk di kelas tiga. Total ada enam. Ketika saya menanyakan jumlah siswa satu kelas kepada salah satu murid, dia menjawab ada sepuluh. Jadilah saat itu lima pengajar mengajar enam siswa. Saat itu saya menyadari bahwa sekolah ini tidak sama dengan sekolah yang sebelumnya saya ajar. Saya tidak bisa memakai tolak ukur satu sekolah untuk memperlakukan sekolah lain begitu saja.
Sebelum mengajar, kami memberikan sedikit ice breaking berupa menyanyi. Namun, adik-adik tidak terlalu bersemangat. Pada jam pertama, kami mengajar Matematika yang materinya adalah penambahan dan pengurangan hingga angka 500 dan mengenalkan tanda lebih dari serta kurang dari. Sama seperti saat menyanyi, adik-adik tidak terlalu bersemangat mengikuti pelajaran. Akhirnya, kami memutuskan untuk membaur dan duduk di samping adik-adik dengan menyisakan satu pengajar yang menjelaskan di depan kelas. Saya duduk di samping seorang adik perempuan, Chelsea namanya. Rambutnya lurus, matanya sedikit sipit dan ia enggan melepas topinya meskipun di dalam kelas.
Adik-adik mulai bersemangat mengikuti pelajaran, bahkan mereka berani untuk mengerjakan soal di depan kelas. Meski begitu, Chelsea tak mau beranjak dari kursinya. Dia hanya mau mengerjakan soal di buku tulis. Ia sempat bingung, namun setelah saya mengubah soal dalam bentuk cerita dan memberi sedikit gambar, ia mampu memahami materi. Pada anak masa praoperasional atau pada usia 2-6 tahun, anak-anak memang lebih mampu menyelesaikan masalah dengan objek real. Pelajaran Matematika pun berjalan cukup lancar dengan metode setengah privat.
Chelsea menulis di buku tulis dengan tangan kanan dan mengenggam uang seribu di tangan kirinya. Jika ia mulai bosan, saya mengajaknya berbincang-bincang sedikit. Entah mengapa saya selalu dekat dengan adik-adik dengan karakter yang sejenis, yang pendiam dan tidak mudah dekat dengan orang baru. Namun ketika akrab, ia bisa jadi sangat menyenangkan. Chelsea bercerita bahwa ayahnya bekerja di Kalimantan, ia tinggal di rumah dengan ibu dan kakaknya. Ia juga bercerita bahwa ia ingin menjadi koki karena suka memasak, bahkan ia mengundang saya dan teman-teman pengajar ke rumahnya. Saat melihat uang seribu yang digenggamnya, saya bertanya "Wah, Chelsea bawa uang nih. Mau buat beli apa?". "Buat beli jajan." jawabnya. Ia berkata bahwa dalam satu hari ia diberi uang saku dua ribu rupiah. Saya pun teringat anak-anak seumuran Chelsea di daerah tempat tinggal saya. Dalam sehari, mereka bisa menghabiskan lima sampai sepuluh ribu rupiah, bahkan bisa kurang. Hal ini memang dikarenakan perbedaan tingkat ekonomi dan budaya. Namun, rasanya serakah sekali ketika kita masih merasa kurang saat ada orang lain yang sudah merasa cukup dengan memiliki sesuatu yang kurang dari kita. Saat itu, dari Chelsea saya belajar bersyukur.
Pada waktu istirahat, beberapa pengajar dan siswa-siswi kelas dua berjalan ke samping sekolah. Disana ada kebun tomat dan kembang kol di seberangnya. Bahkan ada satu siswa kelas tiga ikut bergabung, Rehan namanya. Tak lama, kami kembali ke kelas. Pelajaran kedua yaitu Bahasa Indonesia, materinya mengenai kata tanya, memahami isi bacaan dan kegiatan sehari-hari. Pelajaran kedua pun tidak lebih mudah dari pelajaran pertama. Kami tersenyum sambil beberapa kali menghela nafas panjang untuk menenangkan diri. Beberapa siswa sempat menangis karena berebut gambar ketika mengurutkan kegiatan sehari-hari. Untungnya, kami berhasil meredakan tangis mereka. Ini juga menjadi pengalaman dan koreksi bagi kami untuk merencanakan teknis pengajaran selanjutnya *sigh*.
Siswa-siswi memiliki kemampuan yang cukup timpang satu sama lain. ada yang sudah lancar membaca dan menulis, ada yang belum bisa membaca sama sekali. Hal ini membuat saya ingin tinggal lebih lama. Bukan hanya untuk mengajari mereka, namun juga bermain dengan mereka. Pelajaran di kelas dua pada hari itu diakhiri dengan salam dan doa. Setelah itu, mereka langsung menghilang, entah jutsu apa yang mereka gunakan. Rupanya, beberapa dari mereka langsung meluncur pulang dan beberapa yang lain menuju warung di dekat sekolah. Saya sedikit sedih ketika Chelsea ingin buru-buru pulang, saya ingin lebih lama mengobrol dengannya. Namun, saya bersyukur kegiatan mengajar di kelas kami hari itu berjalan cukup lancar.
It wasn't easier, tapi kalau kita ingin selalu menghadapi yang mudah, kita tidak akan berkembang. Kita tidak akan tahu bagaimana rasanya berusaha sekuat tenaga untuk menjauhi kata menyerah. Hari itu saya belajar banyak. Terima kasih, adik-adik.

semangattt ya kakaa ayuuu~~~ mumumu~~ :)))
BalasHapusMakasih Kak Sarah, jadi malu hehe. Semangat juga kak, kali aja nanti bisa joinan sama Si Pupa ~
BalasHapusBersama anak-anak memang selalu menyenangkan :) koreksi dikit, 2-6 th itu tahap pra-operasional ya.. setelah itu baru operasional konkret *cmiiw :)
BalasHapusOh iya mbak hehe lupa. Makasih koreksinya dan sudah diedit. Semangat magangnya Mbak Livi ~
BalasHapus