Pada doa-doa dan kegaduhan di kepala; aku tidak mengerti apakah kau baik-baik saja, namun mungkin kau ingin tahu bahwa aku sedang mencoba menopang resah gelisah yang datang singgah menyinggah. Hampir selesai, sepertinya. Paling tidak ada satu atau dua hari dalam hidupmu yang ingin kau hapus dari ingatan, entah sepi-sepi akhir pekan atau justru hari kerja yang membahagiakan. Sejak saat itu, rasanya hari Selasa menjadi sedikit berbeda.
Kau pergi dan sesekali aku masih menemukanmu pada ujaran-ujaran yang mirip dengan kalimat-kalimat kita. Aku tidak tahu apakah kau mengerti bahwa terkadang rumah memang tidak membuatku merasa lebih baik, dan bukan pada hal-hal yang telah aku sampaikan, namun sepertinya kau takut merasakan hal yang sama —denganku, di rumahku. Tak apa, mungkin kita sama-sama pantas mendapatkan yang lebih baik, untukku dan untukmu. Hanya saja, ini yang pertama. Baru tahu kalau begini rasanya.
Kita bertemu sebagai sebuah kemungkinan dan berpisah sebagai sebuah kegagalan. Kita, tidak, mungkin aku yang terkadang lupa, bahwa untuk cerita ini, bukan kita yang miliki kuasa. Semoga saja, semuanya tercatat sebagai sebuah amal —yang menjadi saksi bahwa kita pernah mencoba menjemput rasa dengan cara yang Allah suka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Well, I don't hate comments.