Bulan Oktober ini, memasuki bulan ke tujuh saya bekerja di taman kanak-kanak sebagai guru kelas. Lebih tepatnya, saya menjadi partner-teacher atau partner dari wali kelas (setiap kelas diajar oleh dua guru). Untuk pembelajarannya sendiri, sekolah kami menggunakan sistem sentra. Jadi, selain pembelajaran di kelas, ada pula sesi untuk sentra tersebut. Singkatnya, sentra merupakan sistem moving class di mana anak-anak berpindah sentra setiap harinya. Setiap sentra memiliki karakteristik dan fokus tersendiri dan dipegang oleh satu guru. Misalnya, sentra kisah, sentra kreasi, sentra alam raya, sentra atletik, dan lain-lain. Saya sendiri memegang sentra anak shalih yang cenderung berfokus pada nilai agama dan moral, yang tetap didukung oleh aspek-aspek perkembangan yang lain, yaitu fisik motorik, kognitif, bahasa, seni, kognitif, dan sosio-emosional. Banyak hal-hal ajaib yang saya alami setiap harinya semenjak hari pertama saya bekerja di taman kanak-kanak. Mulai dari murid yang menempel pada saya sejak hari pertama dan hingga kini selalu memeluk saya setiap kali kami berpapasan, hingga civil war yang sering terjadi saat pembelajaran di kelas. Iya, civil war. Hampir setiap hari selalu ada siswa yang menangis, entah karena dipukul teman, atau memang sedang cranky...
Saya teringat salah satu foto yang diunggah oleh dosen pembimbing skripsi saya di Instagramnya. Di sana, beliau menceritakan bahwa profesi pertamanya adalah menjadi guru taman kanak-kanak. Fyi, beliau adalah dosen dan psikolog di bidang psikologi perkembangan yang juga berfokus pada studi inklusivitas kampus. Mengetahui bahwa ternyata beliau juga memilih guru taman kanak-kanak sebagai profesi pertamanya, membuat saya semakin bersemangat mencari ilmu dan terinspirasi oleh beliau, plus menjadi bangga akan pekerjaan saya saat ini. Diantara stigma mengenai lulusan Psikologi yang (hanya) menjadi seorang guru taman kanak-kanak (entah stigma itu memang ada atau hanya di kepala saya saja), hal tersebut menjadi motivasi tersendiri.
Salah satu hal yang menjadi perhatian saya saat ini adalah bagaimana untuk menjaga diri agar saya tidak berangsur-angsur menjadikan aktivitas mengajar ini sebagai sebuah rutinitas saja, yang akhirnya saya lakukan sebagai sebuah formalitas saja; yang penting selesai. Namun, menjadikannya sebagai hal yang menyenangkan dan memunculkan sparks tersendiri setiap saya melakukannya. Ketika di kampus, kegiatan mengajar menjadi semacam rehat dari kesibukan akademik dan hiruk pikuk organisasi. Namun, ketika mengajar itu sendiri sudah menjadi sebuah profesi, rasanya berbeda. Saya sendiri menyadari bahwa secinta apapun kita pada suatu hal, ada kalanya hal tersebut menjadi menjemukan atau melelahkan. Namun, bagaimana caranya agar kita bisa menemukan penawar ketika perasaan jemu atau lelah itu muncul.
Semoga kita semua bisa selalu belajar dari segala aktivitas kita, dan tidak hanya terhanyut dalam rutinitas. I think I found one of mine. And you, have you find thing that spark a light in you?
"I believe a lot of our lives are spent asleep, and what I've been trying to do is hold onto those moments when a little sparks cuts through the fog and nudges you." - Rufus Wainwright.Seperti yang pernah saya tulis di akun Instagram saya, salah satu alasan saya memilih mengajar di taman kanak-kanak sebagai profesi pertama saya adalah karena saya menemukan banyak insight ketika berinteraksi dengan anak-anak (selain karena memang banyak hal yang bersinggungan antara psikologi perkembangan dan pendidikan anak usia dini). Dengan kata lain, banyak momen eureka yang terjadi ketika saya berinteraksi dengan mereka. Entah ide abstrak yang tiba-tiba muncul, atau pembelajaran hidup maupun akademik yang terlintas di pikiran saya. Saya banyak belajar. Selain itu, mengajar anak-anak adalah proses menanam. Banyak hal yang bisa kita tanam terlepas dari pembelajaran yang memang tercantum di kurikulum, banyak hal yang akan terinternalisasi dalam diri mereka hingga mereka dewasa, tanpa mereka menyadarinya. Rasanya pasti menarik jika bisa mengetahui ketika besar nanti mereka akan menjadi apa dan bagaimana. Namun, hal ini menjadi ancaman sekaligus tantangan tersendiri, karena kita selalu dilihat oleh puluhan bahkan ratusan anak-anak yang merekam setiap gerak-gerik dan kata-kata kita setiap detiknya, dan bisa saja berefek kepada mereka secara permanen. Memang yaaa, dealing with kids is no easier than dealing with adults.
Semoga kita semua bisa selalu belajar dari segala aktivitas kita, dan tidak hanya terhanyut dalam rutinitas. I think I found one of mine. And you, have you find thing that spark a light in you?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Well, I don't hate comments.