Sabtu, 05 Oktober 2019

Tentang Perfeksionisme

Kemarin, saya membaca Instastory dari salah seorang penulis favorit saya, Urfa Qurrota Ainy, mengenai perfeksionisme. Saya jadi ingat saat di mana saya banyak melakukan screening untuk organisasi di kampus. Saya melihat bahwa di mata teman-teman saya yang juga melakukan screening, perfeksionisme ditangkap senagai sebuah sifat dengan konotasi negatif. Mereka yang menggambarkan dirinya dengan sifat perfeksionis dianggap sebagai orang yang selalu menuntut kesempurnaan, tidak mudah diberi saran, dan egois pada orang lain. Padahal, menurut saya pribadi menuntut kesempurnaan dan egois adalah dua variabel berbeda. Setelah membaca Instastory tersebut, saya menjadi semakin menyadari bahwa memang, sifat apapun pasti memiliki dua kutub, jika terlalu sedikit atau terlalu banyak dapat menjadi negatif, termasuk pada sifat-sifat yang memiliki konotasi positif sekalipun. Baik misalnya, terlalu baik juga ditangkap sebagai sifat yang cenderung negatif bukan? Kadangkala, perfeksionisme hanya memerlukan wadah yang tepat. Urfa mencontohkan bahwa editor buku misalnya, memerlukan sifat perfeksionis tersebut. Jika tidak, tentu hasil pekerjaannya tidak akan begitu baik. Hm,jadi tertarik untuk terjun sebagai editor buku. Begitu pula dengan profesi lain seperti akuntan, graphic designer, dll.

Saya baru sadar beberapa tahun belakangan ini bahwa saya memiliki sifat perfeksionis dan bahkan telah menumbuhkannya sejak kecil. Ketika saya duduk di kelas 3 SD, saya sering menyobek buku tulis sekolah saya ketika tulisan saya jelek, karena meskipun tulisan tersebut sudah dihapus dengan penghapus, akan tetap menimbulkan bekas pensil. Saya tidak suka dan saya menganggap itu jelek, jadi saya menyobeknya, haha. Pun ketika memasuki kehidupan kampus, saya cenderung mengisi posisi yang mengerjakan pekerjaan administratif dan kesekretariatan organisasi (yang mungkin) karena sikap perfeksionis tersebut. Namun pada beberapa hal, orang lain justru menganggap saya sangat toleran. Saya pun menyadari sifat toleran saya adalah pada orang lain, bukan diri saya sendiri. Saya menganggap kesalahan adalah hal yang wajar untuk dilakukan orang lain sebagai proses belajar. Namun, untuk diri saya sendiri, seringkali saya merasa bahwa salah itu sebisa mungkin sangat harus dihindari. Butuh beberapa waktu untuk saya bisa berdamai dan menakar perfeksionisme yang saya miliki dalam ukuran yang pas agar tidak menyusahkan diri sendiri maupun orang lain.

KIta kembali lagi pada pendapat klasik yang ternyata tidak semua orang bisa memahaminya dengan baik, bahwa kelebihan adalah juga sebuah kekurangan, dan kekurangan adalah sebuah kelebihan yang tersamarkan. Boleh jadi, orang pandai adalah orang yang bisa memahami kekurangannya. Namun, orang hebat adalah orang yang mampu menjadikan kekurangannya sebagai sebuah kekuatan. Coba beri ruang yang tepat, bisa jadi sifat yang kita anggap sebagai kekurangan itu justru menjadi kekuatan kita.

Another thought :
Rasanya, perfeksionisme tidak selalu identik dengan rapi, teliti, dan detail. Ketika perfeksionisme dianggap sebagai sebuah paham untuk menjadikan segala sesuatunya sempurna, kita perlu mengingat bahwa standar sempurna setiap orang berbeda-beda. Jadi, belum tentu orang yang sama-sama perfeksionis pasti dapat selalu bekerja sama dengan baik. CMIIW.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Well, I don't hate comments.